Minggu, 29 Juli 2012

Muslim Rohingya Dibantai, Di Manakah PBB ?


[imagetag]
Seperti yang sudah-sudah, PBB kembali terlambat menangani kasus pembantaian etnis, kali ini terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Pembantaian itu terjadi di negeri yang oleh PBB disanjung-sanjung karena memiliki tokoh perdamaian dunia Aung San Suu Kyi.Baru kali ini, Badan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mengeluarkan seruan perlunya dilakukan investigasi independen untuk mengungkap pembantaian etnis Rohingya di Myanmar. Terlambat, karena sudah banyak Muslim meninggal tanpa dunia mempedulikannya.
Seruan yang dikeluarkan Ketua Badan HAM PBB Navi Pillay, Jumat (28/7/2012), itupun sangat terlambat. Sebab, pembataian sudah terjadi lama sedangkan PBB masih menilai bahwa itu tindakan kekerasan. Pillay mengatakan tindakan aparat keamanan Mynamar terhadap warga Muslim Rohingya di wilayah Rakhine Myanmar telah menjurus pada kekerasan terhadap etnis minoritas.
"Kami telah menerima laporan dari sumber independen mengenai diskriminasi oleh aparat keamanan bahkan tindakan kekerasan itu merupakan perintah resmi aparat," ujar Pillay.
"Laporan itu menyebutkan bahwa tindakan aparat terhadap warga sudah menjurus pada kekerasan yang menargetkan warga Muslim, khususnya yang berasal dari masyarakat Rohingnya."
Pillay sendiri baru menerima laporan bahwa jumlah orang yang meninggal adalah 78 orang dan 70 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Padahal, laporan tidak resmi menyebutkan jumlah korban tewas jauh lebih banyak.
Pillay menyerukan pemerintah Myanmar untuk mencegah dan menindak pihak-pihak yang melakukan kekerasan terhadap mereka. Ia khawatir karena pemerintah Myanmar mendukung tindakan itu, terlihat dari istilah yang bernada penghinaan untuk menyebutkan kelompok Rohingya oleh pemerintah dan media massa, terutama oleh pengguna internet.
Diperkirakan, sebanyak 800 ribu Muslim Rohingnya tinggal di Myanmar. Namun, pemerintah menganggap mereka sebagai orang asing dan warga Myanmar juga menyebut mereka pendatang haram dari Banghladesh.
Kondisi Muslim Rohingnya semakin mengkhawatirkan karena dunia tidak mempedulikannya. Bangladesh sendiri tidak bersedia menampung mereka dengan alasan tidak mampu. Sehingga banyak pengungsi Rohingya ke Bangladesh dipulangkan kembali begitu tiba di Bangladesh.
Jangankan mendapat perlindungan, diperlakukan layak saja sudah untung. Sebab, setibanya di pantai-pantai Bangladesh, mereka dikumpulkan dan dijaga ketat oleh aparat bersenjata lengkap. Di bawah todongan senjata mereka dibariskan lalu diberi nasi bungkus dan satu botol air minum.
Aparat, yang rata-rata menenteng senapan serbu semi-otomatis yang biasa digunakan dalam perang itu, kemudian menggiring mereka ke dermaga. Setelah itu mereka disuruh naik ke sampan-sampan yang jauh dari layak untuk menyeberangi lautan. Perintahnya, masuk ke sampan itu lalu kembalilah ke laut.
Kemana tujuan para Muslim tak berdaya itu? Entahlah dan tentu saja itu bukan urusan Bangladesh. Tak peduli mereka mau kemana yang pasti tidak merepotkan Bangladesh.
Praktis Muslim Rohingya itu kebingungan harus kembali ke mana. Sebab, di Myanmar mereka tidak diterima bahkan disiksa dan di Bangladesh juga diusir-usir. Tak ada pilihan selain naik sampan dan akhirnya terkatung-katung di samudera luas. Banyak di antara mereka yang gagal menaklukan ganasnya samudera sehingga harus tewas dan dikuburkan di lautan.
Di Mana Suu Kyi?
Sementara itu di mana tokoh perdamaian dunia yang menjadi simbol Myanmar, Aung San Suu Kyi? Di manakah tokoh yang disanjung-sanjung dunia,karena menerima Nobel Perdamaian itu kini berada? Apa sikapnya tentang kaum Muslim di negerinya itu?
Tentu saja Suu Kyi sedang sibuk menerima pujian yang datang silih berganti seusai bebas dari penjara. 'The Lady' itu tengah asyik menikmati sanjungan sebagai simbol demokrasi di Myanmar. Demikian sibuk hingga ia tak punya waktu, meskipun untuk sekadar membuka mulut.
Karenanya, Suu Kyi dihujani kritik oleh pendukungnya sendiri sebab ikon demokrasi itu enggan membuat pernyataan sehubungan dengan penindasan yang dilakukan militer terhadap Muslim Rohingya.
Kelompok aktivis yang mendukung Suu Kyi menuduh ikon HAM itu sengaja menghindar dan berdiam diri terhadap isu kemanusiaan dan perlakukan buruk oleh tentara pemerintah terhadap etnis Rohingya. Padahal kini PBB menganggap Rohingya adalah etnis paling teraniaya di dunia.
Suu Kyi juga enggan bersikap terhadap tindakan Presiden Myanmar Thein Sein. Padahal mantan jenderal militer itu mendukung kebijakan yang mendorong terjadinya penghapusan etnis. Thein Sein mengatakan, sekitar 800 ribu etnis Rohingya harus ditempatkan pada kamp pengungsi dan dikirim ke perbatasan Bangladesh. Itu artinya, etnis Muslim Rohingya tak boleh ada di Myanmar. 
Source
009832

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar