Minggu, 05 Agustus 2012

5 Mantan Menteri indonesia Keturunan Tionghoa

Keturunan Tionghoa merupakan sebutan lain untuk orang-orang dari suku atau ras Tiongkok di Indonesia. Akibat tekanan rezim Orde Baru, banyak dari antara orang Tionghoa telah menanggalkan nama aslinya dan menggunakan nama-nama lokal, meskipun secara diam-diam masih memakainya untuk kegiatan di kalangan mereka. Namun seiring dengan terjadinya Reformasi, tanpa rasa takut mereka kembali menggunakan nama Tionghoa mereka, meskipun masih banyak yang enggan memakainya kembali.
Nah berikut ini ada beberapa mantan Mentri Indonesia dari keturunan Tionghoa. Mau tahu siapa saja mereka simak berikut ini.
1. Bob Hasan
Mohammad (Bob) Hasan lahir di Semarang tahun 1931 adalah pengusaha dan pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia pada Kabinet Pembangunan VII. Bob Hasan merupakan warga Indonesia keturunan Tionghoa. Ia memeluk agama Islam. Nama lainnya adalah The Kian Seng. Sejak kecil beliau diasuh sebagai anak oleh Jenderal Gatot Subroto.
Namanya mencuat karena berbisnis kayu-kayuan yang ditebangnya dari hutan-hutan tropis.
Bob Hasan juga pernah menjadi ketua PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), dan IAAF (International Associations of Athletic Federation).
Ia pernah diberi penghargaan prestisius Kalpataru pada tahun 1997 sementara oleh orang lain ia dituduh merusak lingkungan hidup. Sekarang ia sedang menjalani hukumannya di penjara Nusakambangan.
2. Kwik Kian Gie
Kwik Kian Gie  lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1935; umur 77 tahun  adalah seorang ahli ekonomi dan politikus Indonesia keturunan Tionghoa.
Kwik menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi (1999 – 2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas (2001 – 2004). Kwik merupakan fungsionaris PDI-Perjuangan.
Selain itu, sebagai bentuk pengabdian di dunia pendidikan Indonesia, ia mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia.
3. Lie Kiat Teng
Dr. Lie Kiat Teng (Lahir di Sukabumi, Jawa Barat) adalah menteri Kesehatan dalam kabinet Ali Sastroamidjojo pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Belakangan namanya diganti menjadi Mohammad Ali. Ia adalah anggota PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Ia berjasa dalam mendirikan Rumah Sakit dr. Moh. Hoesin di Palembang, Sumatera Selatan.
4. Oei Tjoe Tat
Oei Tjoe Tat  semasa hidupnya adalah seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus dari Universiteit van IndonesiĆ« (sekarang Universitas Indonesia) di Batavia pada tahun 1948.
Ia terpilih wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) serta menjadi salah satu pengurus pusatnya.
Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora yang dijuluki sebagai Kabinet 100 Menteri. Setelah peristiwa Gestok tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah Orde Baru dan dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai tuduhan terlibat dalam Gestok, namun tuduhan itu tidak pernah terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun 1977.
5. Ong Eng Die
Ong Eng Die lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Amsterdam pada tahun 1940 dan memperoleh gelar Doktor pada tahun 1943 setelah berhasil mempertahankan disertasinya Chineezen in Nederlandsch-Indie, een Sociografie van een Indonesische Bevolkingsgroep (diterbitkan pada tahun 1943). Pada tahun 1945 beliau kembali ke Indonesia dan bekerja di Bank Pusat Indonesia, Yogyakarta. Dari tahun 1947 hingga 1948 beliau diangkat sebagai Deputi Menteri Keuangan di bawah administrasi kabinet Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Dalam perundingan Perjanjian Renville, beliau menjadi penasehat Delegasi Indonesia. Ia kemudian membuka kantor akuntan sendiri pada tahun 1950. Ia bergabung dengan PNI (Partai Nasional Indonesia) dan pada tahun 1955 menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar